Materi PMR Wira

MATERI KEGIATAN EKTRAKURIKULER PALANG MERAH REMAJA ( PMR ) WIRA UNIT MA AL SYARIFIYAH BONDAN Palang Merah Remaja (PMR) yang merupakan salah satu kegiatan ekstrakurikuler di MA Al Syarifiyah Bondan mengharuskan para anggotanya paling tidak harus menguasai beberapa materi. Syarat-syarat menjadi anggota PMR • Berikut ini adalah syarat-syarat untuk menjadi anggota PMR. • Warga Negara Indonesia. • Berusia 7 tahun sampai dengan 21 tahun. • Dapat membaca dan menulis. • Atas kemauan sendiri, tanpa paksaan maupun tekanan dari orang lain, ingin menjadi anggota PMR. • Mendapat persetujuan dari orang tua atau wali. • Sebelum menjadi anggota penuh, bersedia mengikuti pendidikan dan pelatihan yang diharuskan. • Bersedia melaksanakan tugas kepalangmerahan selaku anggota PMR secara sukarela. PATUT Isi dari PATUT: P : Penolong mengamankan diri sendiri sebelum bertindak A : Amankan Korban T : Tandai tempat kejadian U : Usahakan panggil bantuan T : Tangani korban (dengan P3K) mulai dari luka yang paling serius atau membahayakan keselamatan korban Tujuh Prinsip Dasar Gerakan Palang Merah Internasional 1. Kemanusiaan 2. Kesamaan 3. Kenetralan 4. Kemandirian 5. Kesukarelaan 6. Kesatuan 7. Kesemestaan Tribakti Palang Merah Remaja Berbakti kepada masyarakat. Mempertinggi ketrampilan dalam rangka meningkatkan kebersihan dan kesehatan. Mempererat persahabatan nasional dan internasional Mars Palang Merah Indonesia Palang Merah Indonesia Sumber kasih umat manusia warisan luhur nusa dan bangsa Wujud nyata mengayom Pancasila Gerak juangnya ke seluruh Nusa Mendharmakan bakti bagi ampera Tunaikan tugas suci, tujuan PMI, di Persada Bunda Pertiwi untuk umat manusia di seluruh dunia PMI mengantarkan jasa 1 Faktor-Faktor yang dilatih dalam pendidikan ke-PMR-an: Fisik Mental Kreatifitas/Otak KEANGGOTAAN PMR A. Anggota PMR adalah anggota remaja berusia 10 – 17 tahun dan atau belum menikah, yang mendaftarkan diri dan terdaftar dalam kelompok PMR B. Syarat-syarat menjadi anggota 1. Warga Negara Indonesia yang sedang berdomisili di wilayah Indonesia 2. Berusia 10 tahun sampai dengan 17 tahun dan atau belum menikah 3. Mendapatkan persetujuan orang tua/wali 4. Bersedia mengikuti orientasi, pelatihan, dan pelaksanaan kegiatan kepalangmerahan 5. Mengisi formulir pendaftaran dan mengembalikannya kepada Pembina PMR dikelompok PMR masing-masing, untuk selanjutnya disampaikan kepada pengurus cabang Palang Merah Indonesia setempat. C. Pengesahan Anggota Lihat Pelantikan Anggota PMR D. Anggota PMR 1. PMR Mula : 10 – 12 tahun atau seusia Kelas IV s/d VI (SD/MI) 2. PMR Madya : 12 – 15 tahun atau seusia Kelas VII s/d IX (SMP/MTS/SLB) 3. PMR Wira : 15 – 17 tahun seusia Kelas X s/d XII (SMA/SMK/MA) E. Hak dan Kewajiban 1. Hak a. Mendapatkan pembinaan dan pengembangan oleh PMI b. Menyampaikan pendapat dalam forum/pertemuan resmi PMI c. Berpartisipasi aktif dalam kegiatan PMR d. Mendapatkan Kartu Tanda Anggota (KTA) 2. Kewajiban a. Menjalankan dan membantu menyebarluaskan prinsip-prinsip dasar gerakan b. Mematahui AD/ART PMI c. Membantu mempromosikan kegiatan PMI d. Berpartisipasi aktif dalam kegiatan PMI e. Menjaga nama baik PMI f. Membayar uang iuran keanggotaan F. Penghentian Anggota 1. Keanggotaan PMR dinyatakan gugur keanggotaannya jika yang bersangkutan : Mohon berhenti, Diberhentikan dan Meninggal dunia 2. Anggota PMR dapat diberhentikan oleh Pengurus PMI Cabang, apabila yang bersangkutan mencemarkan nama baik PMI dan atau dijatuhi hukuman pidana yang telah berkekuatan hukum tetap 3. Penghentian secara resmi dinyatakan dengan surat keputusan penghentian dan penonaktifan nomor anggota 2 SEJARAH PALANG MERAH INTERNASIONAL , NASIONAL DAN JAWA BARAT A. Sejarah Palang Merah Internasional Pada tanggal 24 Juni 1859 dikota Solferino Italia Utara, pasukan Itali dan Perancis sedang bertempur melawan pasukan Austria dalam suatu peperangan yang mengerikan. Pada hari yang sama seorang pemuda dari negara Swiss, Henry Dunant, berada disana dalam rangka perjalanan untuk menjumpai kaisar Perancis, Napoleon III. Puluhan ribu tentara terluka, sementara bantuan medis militer tidak cukup untuk merawat 40.000 orang yang menjadi korban pertempuran tersebut. Tergetar oleh penderitaan tentara yang terluka. Henri Dunant bekerja dengan penduduk setempat, segera bertindak untuk mengerahkan bantuan untuk menolong mereka. Setelah kembali ke Swiss, dia menuangkan kesan dan pengalaman tersebut kedalam sebuah buku berjudul “ Kenangan dari solferino ”, yang menggemparkan seluruh Eropa. Dalam buku tersebut, Henri Dunant mengajukan dua gagasannya ; - Pertama : Membentuk organisasi kemanusiaan internasional, yang dapat dipersiapkan pendiriannya pada masa damai untuk menolong para prajurit yang cedera di medan perang. - Kedua : Mengadakan perjanjian internasional guna melindungi prajurit yang cedera di medan perang serta perlindungan sukarelawan dan organisasi tersebut pada waktu memberikan pertolongan pada saat perang. Pada tahun 1863, empat orang warga kota Jnewa bergabung dengan Henri Dunant untuk mengembangkan gagasan pertama tersebut. Mereka lebih dikenal dengan “ Komite Lima ” yang terdiri dari : 1. Gustave Moynier Ketua 2. Henri Dunant Sekertaris 3. Jendral Guillaume Henri Dufour Anggota 4. dr. Louis Appia Anggota 5. dr. Theodore Maunoir Anggota Mereka bersama – sama membentuk “ Komite Internasional untuk bantuan para tentara yang cedera ” yang sekarang disebut komite Internasional Palang Merah atau International Committee of the Red Cross ( ICRC ). Merupakan lembaga kesehatan yang bersifat mandiri, sebagai penengah dan netral. Dalam perkembangan Palang Merah internasional juga memiliki Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah atau international federation of Red Cross dan Red crescent ( IFRC ) . Dalam perkembangan untuk melaksanakan kegiatan kemanusiaan disetiap negara, maka didirikan sukarelawan yang bertugas untuk membantu bagian medis angkatan darat pada waktu perang. Organisasi tersebut sekarang dikenal dengan nama Perhimpunan nasional Palang Merah atau Bulan Sabit Merah. Berdasarkan gagasan kedua, pada tahun 1864, atau prakarsa pemerintah federal Swiss diadakan konferensi internasional yang dihadiri beberapa negara untuk menyetujui adanya “ Konvensi perbaikan kondisi prajurit yang cidera dimedan perang ”. konvensi ini disempurnakan dan dikembangkan menjadi konvensi Jnewa I, II, III dan IV tahun 1949 atau dikenal sebagai konvensi Palang Merah. Konvensi ini merupakan salah satu komponen dari Hukum Prikemanusiaan Internasional ( HPI ) merupakan suatu ketentuan internasional yang mengatur perlindungan dan bantuan perang. B. Sejarah Palang Merah Nasional Sejarah berdirinya Palang Merah di Indonesia sebenarnya sudah dimulai sebelum perang dunia II, tepatnya 12 oktober 1873. pemerintah Kolonial Belanda mendirikan Palang Merah di Indonesia dengan nama Nederlandsche Roode Kruis Afdeeling Indie ( NERKAI ) yang kemudian 3 dibubarkan pada masa kependudukan Jepang. Perjuangan mendirikan Palang Merah Indonesia ( PMI ) sekitar tahun 1932 diawali kegiatan tersebut diplopori dr RCL Senduk dan dr Bahder Djohan dengan membuat rencana pembentukan PMI. Ranangan tersebut mendapat dukungan luas terutama dari kalangan terpelajar Indonesia, dan diajukan kedalam sidang konverensi Narkei pada tahun 1940 walaupun pada akhirnya ditolak mentah – mentah. Rancangan tersebut disimpan menunggu saat yang tepat. Seperti tak kenal menyerah pada saat penduduk Jepang mereka kembali mencoba untuk membentuk Badan Palang Merah Nasional, namun sekali lagi upaya itu mendapat halangan dari pemerintah tentara Jepang sehingga untuk yang kedua kalinya rancangan tersebut kembali disimpan. Proses Pembentukan Palang Merah Indonesia ( PMI )Tujuh belas hari setelah hari kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945 yaitu pada tanggal 3 September 1945, presiden Soekarno mengeluarkan perintah untuk membentuk suatu badan Palang Merah nasional. Atas perintah presiden maka Dr. Buntara yang saat ini menjabat sebagai mentri kesehatan Republik Indonesia Kabinet I, pada tanggal 5 September 1945 membentuk panitia yang terdiri dari : 1. Dr. R. Mochtar ( Ketua ) 2. Dr. Bahder djohan ( Penulis ) 3. Dr. Djuhana ( anggota ) 4. dr. Marjuki ( Anggota ) 5. Dr. Sitanala ( Anggota ) Akhirnya perhimpunan Palang Merah Indonesia terbentuk pada tanggal 17 September 1945 dengan Moh. Hatta sebagai Ketua. PMI mendapat pengakuan Internasional pada tahun 1950 dengan menjadi anggota Palang Merah Internasional dan disahkan keberadaannya secara nasional melalui Keppres No. 246 tahun 1963. kini jaringan kerja PMI tersebar di 33 daerah Provinsi Tk. I dan 323 cabang daerah Tk. II serta di dukung Operasional 165 ubit transfusi darah diseluruh Indonesia. Beberapa peristiwa sejarah yang penting • Pada tanggal 16 Januari 1950, dikeluarkan keputusan pemerintah RI No. 25 / 1950 tentang pengesahan berdirinya PMI. • Pada tanggal 15 Juni 1950, PMI diakui International Committee of the Red Cross ( ICRC ) dengan surat keputusan No. 392. • Pada tanggal 16 Oktober 1950, PMI diterima menjadi anggota Liga Internasional Palang Merah dengan keanggotaan No. 68. • Pada tanggal 20 Mei 1950 NERKAI menyerahkan rumah sakit Kedung Halang ke PMI yang sekarang dikenal dengan nama Rumah Sakit Umum PMI Bogor. Sebagai perhimpunan nasional yang sah, PMI berdiri berdasarkan keputusan presiden No. 25 tahun 1925 dan dikukuhkan dan dikukuhkan kegiatannya sebagai satu – satunya organisasi perhimpunan nasional yang menjalankan tugas ke Palang Merahan melalui Keputusan Presiden No. 246 tahun 1963. C. Sejarah PMI Jawa Barat Sebelum PMI Daerah Jawa Barat dibentuk, antara tahun 1945 - 1955 terlebih dahulu telah berdiri organisasi PMI dibeberapa kota seperti kota Bandung, Bogor, Sumedang, Majalengka, Tasikmalaya dan Cirebon. Menjelang tahun 1956 kebutuhan akan kordinator kegiatan PMI di wilayah Jawa Barat tak terelakan karena selain melihat kondisi dan kegiatan yang terus meningkat, juga berdasarkan AD/ART PMI yang telah disempurnakan dan disahkan oleh Kongres PMI tingkat Nasional ke VI di Tawangmanggu, Surakarta, Jawa Tengah pada 16 Desember 1954. Bab VII Pasal 41 AD/ART PMI pada saat itu menyatakan: (1) Manakala oleh cabang - cabang dalam satu provinsi dirasakan perlu dapat didirikan satu badan koordinasi. (2) Badan koordinasi itu dinamakan Pengurus Daerah. Maka atas prakarsa PMI Cabang 4 Bandung maka diadakan persiapan pendirian PMI Daerah Jawa Barat. Rapat pada tanggal 17 Juni 1956 yang dihadiri oleh cabang Garut, Tasikmalaya, Kuningan, Majalengka, dan Bandung bertempat di Bandung memutuskan untuk membentuk Pengurus Daerah Jawa Barat. Bermarkas di jl. Nias No. 2, Bandung bersama dengan PMI Cabang Bandung. Setelah PMI Bandung mendapatkan markas cabang di jalan Aceh No. 79, Bandung, Markas Daerahpun pada tahun 1967 ikut berpindah ke jl. Aceh No. 79, Bandung. Barulah pada tahun 1977, PMI Daerah Jawa Barat mempunyai gedung sendiri yaitu di Jl. Ir. H. Djuanda No. 426 A, yang sampai saat ini dipergunakan. Profil PMI Jawa Barat Saat ini PMI Daerah Jawa Barat saat ini membawahi 25 cabang kabupaten/kota yaitu Kabupaten Sukabumi, Cianjur, Purwakarta, Subang, Ciamis, Bandung, Indramayu , Majalengka, Bogor, Karawang, Garut, Cirebon, Sumedang, Kuningan, Bekasi, Tasikmalaya, serta cabang Kota Tasikmalaya, Cimahi, Cirebon, kota Bogor, Depok, Sukabumi, Bekasi, kota Bandung dan Banjar. Sumber daya manusia yang dimiliki oleh PMI Daerah Jawa Barat adalah 275 orang Pengurus cabang , 179 Staf markas, 200 Staf UTDC, 48 orang dokter UTDC, 4.387 anggota PMR Mula (Sekolah Dasar), 57.789 anggota PMR Madya (Sekolah Menengah Pertama), 38821 anggota PMR Wira (Sekolah Menengah Atas), 1.911 anggota KSR, 4.633 anggota TSR (Tenaga Sukarela), 273 Pelatih dan 719 anggota SATGANA (Satuan Penanggulangan Bencana). SEJARAH PMR INTERNASIONAL DAN NASIONAL Sejarah Palang Merah Remaja ( PMR ) dilatar belakangi oleh terjadinya perang dunai I ( 1914 – 1918 ) pada waktu itu Australia sedang mengalami peperangan. Karena Palang Merah australia kekurangan tenaga untuk memberikan bantuan, akhirnya mengerahkan anak – anak sekolah supaya turut membantu sesuai dengan kemampuannya. Maka diberikan tugas – tugas ringan seperti, mengumpulkan pakaian – pakaian bekas, dan majalah – majalah serta koran bekas. Anak – anak tersebut terhimpun dalam satu badan yang disebut Palang Merah Remaja ( PMR ). Pada tahun 1919 di dalam sidang liga Perhimpunan Palang Merah Internasional diputuskan bahwa Gerakan Palang Merah Remaja menjadi satu bagian dari perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah. Kemudian usaha tersebut di ikuti oleh negara – negara lain. Dan pada tahun 1960, dari 145 perhimpunan Palang Merah dan Bulan sabit Merah sebagian besar sudah memiliki Palang Merah Reamaja. Di Indonesia pada kongres PMI ke-IV tepatnya bulan Januari 1950 di Jakarta, PMI membentuk Palang Merah Remaja ( PMR ) yang dipimpin oleh Ny. Siti Dasimah dan Paramita Abdurrahman. Pada tanggal 1 Maret 1950 berdiri Palang Merah Remaja secara resmi di Indonesia. Sebelumnya pada awal pendirian bernama Palang Merah Pemuda ( PMP ) Kemudian menjadi Palang Merah Remaja. Sejarah Palang Merah Remaja dibentuk pada kongres PMI pada Januari 1950 di Jakarta. PMR dulu bernama Palang Merah Pemuda, 1 Maret Secara resmi berkembangnya PMR di sekolah didasari surat edaran Dirgen Pendidikan No. 11-052-1974. SUSUNAN KEPENGURUSAN DAN PERANAN PMI DARI PUSAT SAMPAI CABANG A. Susunan kepengurusan PMI Susunan kepengurusan PMI Pusat Tahun 2009 - 2014 Penanggung Jawab : Presiden Susilo Bambang Yudhoyono Ketua Umum : Drs. H. Muhammad jusup Kalla Wakil Ketua Umum: Dr. Bachtiar Chamsjah, SE Sekertaris Jendral : Ir. Budi Atmadi Adiputro, Dipl. HE Bendahara : Suryani Sidik Motik, Ph.D Anggota : 1. DR. Dr. Hj. Ulla Nurchrawaty Usman, MM 2. Dr. Farid Husain, Sp.Bd 3. H. Muhammad Muas, SH 4. Letjen TNI ( Purm ) Sumarsono, SH 5. Dr. Biantoro Wanandi 6. DR. H. Rakhmat Gobel 7. Rapipuddin Hamarung 8. Bernhard S. Jonosisworo 5 9. Lily Kasoem 10. dr. Ritola Tasmaya, MPH 11. dr. Linda Lukitasari Waseso Susunan kepengurusan PMI Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2009 – 2014 Penanggung Jawab : Gubernur Jawa barat Akhmad Heryawan Ketua : Drs. H. Karna Suwanda Wakil Ketua : Dr. Subekti N. Kartasasmita, MPH Wakil Ketua : Drs H. Mamad Suryana Wakil Ketua : Dr. H. Iim Maslimah, M.Pd, M.Si Sekertaris : Drs. H. Didi Edia Karta Dinata Wakil Sekertaris : H. Denni Candrasah Bendahara : Hj. Tin Kartini Nurmawan, SE Anggota : 1. H. Aslim Ilyas, BA 2. Dr. Hj. Erlina Kartabrata 3. Drs. H. Takdimullah 4. Dra. Hj. Silviati, M.Si 5. Dra. Elly Siti Halimah, M.Si Susunan Kepengurusan PMI Cabang Indramayu Tahun 2010 – 2015 Penanggung Jawab : Bupati Indramayu Dr. H. Iryanto Mahfudz Sidik Syafiuddin Ketua : Wakil Ketua : Wakil Ketua : Wakil Ketua : Sekertaris : Wakil Sekertaris : Bendahara : Anggota : 1. 2. 3. 4. 5. Susunan Kepengurusan PMR Wira Unit MA Al Syarifiyah Tahun 2010 – 2011 Penanggung Jawab : Kepala Madrasah Drs. Dzikrullah Pembina : Moh. Saefi, A.Ma Pelatih : Almuntasir Lidinillah Ketua : Yayat Sumyati Wakil Ketua : Uripah Sekertaris : Euis Rohmi Bendahara : Hikmatul Hauliyah Wakil Bendahara : Sayyidah Unit - unit : Bakti Masyarakat : 1. Fitriyani 2. Nurkhasanah 3. Irman Pelani Keterampilan Kebersihan dan Kesehatan 1. Siti Sholeha 2. Mubarok 3. Azizah Persahabatan 1. Anipah 2. Ryo Antono 3. Siti Kholifah Umum 1. Osa Permata Sari 2. Syahril Sidik 3. Nurcusniati B. Peran masing-masing pihak 1. PMI Pusat a. Mengeluarkan kebijakan tentang pembinaan PMR (perekrutan, pelatihan, pengembangan kegiatan, pengembangan kapasitas, pelaporan, monitoring, dan evaluasi) b. Mengeluarkan buku panduan pembinaan, kurikulum standard pelatihan anggota dan Pembina PMR, dan modul c. Memfasilitasi PMI Daerah melaksanakan kebijakan, buku panduan, kurikulum, dan modul d. Memfasilitasi pelatihan, pengembangan kegiatan, dan pengembangan kapasitas untuk tingkat nasional e. Menyelenggarakan kegiatan nasional, misal Jumbara Nasional f. Melakukan monitoring dan evaluasi pada setiap tahap pembinaan PMR g. Berkoordinasi dengan pihak terkait ditingkat Pusat (TP PMI, Diknas, Depkes, Depag, NGO) untuk pengembangan pembinaan PMR 6 h. Menyediakan informasi terkait dengan pengembangan pembinaan PMR, dan meneruskan informasi tersebut kepada PMI Daerah 2. PMI Daerah a. Menerapkan kebijakan tentang pembinaan PMR b. Memfasilitasi PMI Cabang dalam melaksanakan kebijakan, buku panduan, kurikulum, dan modul c. Memfasilitasi pelatihan, pengembangan kegiatan, dan pengembangan kapasitas untuk tingkat daerah d. Menyelenggarakan kegiatan tingkat PMI Daerah, misal: Jumbara Daerah e. Melakukan monitoring dan evaluasi pada setiap tahap pembinaan PMR f. Berkoordinasi dengan pihak terkait ditingkat Propinsi (TP PMI, Diknas, Depkes, Depag, NGO) untuk pengembangan pembinaan PMR g. Menyediakan informasi terkait dengan pengembangan pembinaan PMR, dan meneruskan informasi tersebut kepada PMI Cabang h. Memfasilitasi PMI Cabang dalam menerapkan informasi-informasi tentang pembinaan PMR 3. PMI Cabang a. Menerapkan kebijakan tentang pembinaan PMR b. Memfasilitasi kelompok PMR melaksanakan kebijakan, buku panduan, kurikulum, dan modul c. Memfasilitasi pelatihan, pengembangan kegiatan, dan pengembangan kapasitas untuk tingkat cabang dan kelompok PMR d. Menyelenggarakan kegiatan tingkat PMI Cabang, misal: orientasi Pembina PMR, pelatihan gabungan anggota PMR, Jumbara Cabang e. Menugaskan pelatih PMI untuk melatih kelompok PMR f. Melakukan monitoring dan evaluasi pada setiap tahap pembinaan PMR g. Berkoordinasi dengan pihak terkait ditingkat Kota/Kabupaten (TP PMI, Diknas, Depkes, Depag, NGO) untuk pengembangan pembinaan PMR h. Menyediakan informasi terkait dengan pengembangan pembinaan PMR dan meneruskan informasi tersebut kepada kelompok PMR i. Memfasilitasi Kelompok PMR dalam menerapkan informasi-informasi tentang pembinaan PMR 4. Penanggung jawab a. Menerapkan kebijakan tentang pembinaan PMR b. Memfasilitasi pelaksanaan kegiatan dikelompok PMR c. Bersama dengan PMI Cabang mengatur, memonitor, dan mengevaluasi tugas Pembina PMR, dan Pelatih PMI di kelompok PMR tersebut d. Melakukan monitoring dan evaluasi pada setiap tahap pembinaan PMR e. Berkoordinasi dengan pihak terkait ditingkat Kota/Kabupaten /Kecamatan f. Menerapkan informasi-informasi terkait pembinaan PMR, untuk pengembangan PMR 5. Pembina PMR a. Menerapkan kebijakan tentang pembinaan PMR b. Melakukan monitoring dan evaluasi pada setiap tahap pembinaan PMR c. Menerapkan informasi-informasi terkait pembinaan PMR, untuk pengembangan PMR 6. Instansi terkait Mendukung upaya pembinaan PMR, sesuai 7 Prinsip Palang Merah Indonesia dan Bulan Sabit Merah Internasional 7 MATERI PERTOLONGAN PERTAMA CEDERA ALAT GERAK. Alat gerak terdiri dari dari tulang, Sendi, Jaringan ikat dan otot pada manusia. Secara Umum cedera pada alat gerak dapat berupa : 1. Patah tulang. 2. Kepala sendi atau ujung tulang keluar dari sendi ( cerai sendi, Dislokasi ). 3. Otot atau sambungan ototnya teregang melebihi batas normal ( terkilir otot, strain ). 4. Robek atau putusnya jaringan ikat di sekitar sendi/terkilir sendi, Sprain Patah Tulang. Pengertian : Terputusnya jaringan tulang, baik seluruhnya atau hanya sebagian saja. Penyebab : Terjadinya Gaya yang melebihi kapasitas gaya elastisitas tulang sehingga jaringan tulang rusak. Gaya tersebut akibat kekerasan dari luar. Cedera dapat terjadi sebagai akibat : Gaya Langsung, Gaya tidak langsung, Gaya Puntir. Gejala dan Tanda : 1. Terjadinya Perubahan Bentuk pada bagian tubuh yang patah. ( Bandingkan dengan sisi yang lain ) 2. Daerah yang patah nyeri dan kaku pada saat ditekan atau bila digerakkan. 3. Bagian yang patah membengkak, Memar / Perubahan Warna. 4. Mengalami Fungsi Gerak. 5. Terdengan suara berderik. 6. Mungkin terlihat bagian tulang yang patah pada luka. Jenis Patah Tulang : 1. Patah Tulang Tertutup : tidak ada luka. 2. Patah Tulang Terbuka. : Ada Luka, Tulang yang patah berhubungan dengan udara, akan tetapi tulang yang patah tidak selalu terlihat atau menonjol keluar. ( Hati – hati Infeksi ). Urai / Cerai Sendi ( Dislokasi ). Pengertian : Keluarnya kepala sendi dari mangkok sendi atau keluarnya ujung tulang ari sendinya. 8 Penyebab : Karena sendi teregang melebihi batas normal. Gejala dan Tanda : Secara UMUM berupa gejala tanda patah tulang yang terbatas pada daerah sendi. Terkilir / Keseleo. Ada 2 macam : 1. Terkilir Sendi ( Sprain ). Pengertian : Robeknya jaringan ikat sekitar sendi karena sendi teregang melebihi batas normal. Penyebab : Terpeleset, gerakan yang salah, sehingga menyebabakan sendi teregang melampaui gerakan normal. Gejala dan tanda : Nyeri bengkak., bengkak, Nyeri tekan, Memar. 2, Terkilir Otot ( Strain ). Pengertian : Robeknya jaringan oto bagian tendon ( Ekor Otot ), karena teregang melebihi batas normal. Penyebab : Umumnyaterjadi karena pembebanan secara tiba – tiba pada otot tertentu. Gejala dan Tanda : 1, Nyeri yang tajam dan mendadak pada daerah otot tertentu. 2, Nyeri menyebar keluar dengan kejang atau kaku otot. 3, Bengkak pada daerah cedera. Article I. PEMBIDAIAN Pengertian : Upaya untuk menstabilkan dan mengistirahatkan ( Immobilisasi ) bagian yang cedera. Tujuan : 1. Mencegah pergerakan / Pergeseran dari ujung tulang yang patah. 2. Mengurangi terjadinya cedera baru di sekitar bagian tulang yang patah. 3. Memberi istirahatkan pada anggota badan yang patah. 4. Mengurangi rasa nyeri. 5. Mempercepat penyembuhan. Macam – Macam Bidai : 1. Bidai Keras. ( terbuat dari kayu, alumunium, dan bahan lainnya ). 2. Bidai Traksi. 3. Bidai Improvisasi.( Koran, Majalah dan Lainnya ). 4. Gendongan / Belat dan Beban. ( Mitella dibuat Gendongan ). Pedoman Umum Pembidaian. 1. Sedapat mungkin informasikan tindakan yang akan dilakukan. 2. Sebelum membidai paparkan seluruh bagian yang cedera yang cedera dan rawat pendarahan bila ada. 3. Selalu buka / bebaskan pakaian pada daerah sendi sebelum membidai, buka perhiasan di daerah patah atau di daerah Distal. 4. Nilai GSS ( Gerakan Sensasi Sirkulasi ) pad bagian Distal cedera sebelum melakukan Pembidaian. 5. Siapkan Alat – alatnya selengkapnya. 6. Jangan berupaya merubah posisi bagian ynag cedera, upayakan membidai dalam posisi di temukan. 7. Jangan berupaya memasukan tulang yang patah. 8. Bidai harus meliputi dua sendi dari tulang yang patah, Sebelum dipasang diukur dulu 9 pada anggota badan yang sehat. 9. Bila pada sendi bidai tulang yang mengapit sendi upayakan jangan membidai sendi distalnya. 10. Lapisi bidai dengan bahan yang lunak bila memungkinkan. 11. Isilah bagian yang kosong antara tubuh dengan bidai dengan bahan pelapis. 12. Ikatan jangan terlalu longgar dan jangan terlalu keras. 13. Ikatan harus cukup jumlahnya, dimulai dari sendi yang banyak bergerak, kemudian sendi atas dari tulang yang patah. 14. Selesai Pembidaian lakukan pemeriksaan GSS kembali, bandingkan dengan pemeriksaan yang pertama. 15. Jangan membidai berlebihan. Petolongan Cedera Alat Gerak. 1. Lakukan Penilaian Dini. - Kenali dan atasi keadaan yang mengancam jiwa. - Jangan terpancing oleh cedera yang terlihat berat. - Pasang bidai leher ( Neck Collar ) dan beri O2 bila ada. 2. Lakukan pemeriksaan Fisik. 3. Stabilkan bagian yang patah secara manual, pegang sisi sebelah atas dan sebelah bawah cedera, jangan menambah sakit penderita. 4. Paparkan seluruh bagian yang di duga cedera. 5. Atasi pendarahan dan rawat luka bila ada. 6. Siapkan alat dan bahan untuk membidai. 7. Lakukan pembidaian. 8. Kurangi rasa sakit. - Istirahatkan bagian yang cedera. - Kompres es yang cedera ( Khususnya pada patah tulang tertutup ). - Baringkan penderita pada posisi yang nyaman. Patah tulang, cerai sendi, dan terkilir / keseleo mungkin ditemukan bersamaan pada satu cedera. Penanganan terkilir . 1. Letakkan penderita dalam posisi yang nyaman, istirahatkan bagian yang cedera. 2. Tinggikan daerah yang cedera. 3. Beri kompres dingi, selama 30 meni, ulangi setiap jam bila perlu. 4. Balut tekan dan tetap tinggikan. 5. Bila ragu rawat sebagai patah tulang. 6. Rujuk ke fasilitas kesehatan. Menolong beberapa macam cedera alat gerak. Patah Tulang Lengan Atas. Pertolongan : 1. Letakkan lengan bawah di dada dengan terlapak tangan menghadap kedalam. 2. Pasang Bidai L atau bidai sampai siku. 3. Ikat pada daerah diatas dan di bawah tulang yang patah. 4. Lengan bawah di gendong. 5. Jika siku juga patah dan tangan dan tangan tak dapat dilipat, pasang bidai sampai kelengan bawah dan biarkan tangan tergantung tidak usah di gendong. 6. Rujuk ke fasilitas kesehatan. Patah Tulang Lengan Bawah. 10 Pertolongan : 1. Letakan tangan pada dada. 2. Pasang bidai dari siku sampai tangan. 3. Ikat pada daerah di atas dan di bawah tulang yang patah. 4. lengan yang digendong. 5. Rujuk ke fasilitas kesehatan. Patah Tulang Panggul. Tanda – tanda patah tulang panggul. 1. Nyeri di daerah atas kemaluan bila penderita mencoba duduk atau berdiri. 2. Kadang tidak mampu menggerakan kaki dan terasa kesemutan. Pertolongan : 1. Harus hati hati dalam memindahkan penderita. 2. Penderita harus diangkat dengan usungan papan dengan ke dua kaki diikat menjadi satu. 3. Di bawah lutut di beri bantal, letakkan bantalan lunak di samping kiri dan kanan tulang pinggul. 4. Pembalut diikatkan pada tulang pinggul dan pergelangan kaki. 5. Rujuk ke fasilitas kesehatan. Patah Tulang Paha ( Tungkai Atas ). Pertolongan : 1. Siapkan pembalutan secukupnya untuk mengikat bidai, sebaiknya pasang 2 bidai dari : a. Ketiak sampai sedikit melewati telapak kaki. b. Lipat paha sampai sedikit melewati telapak kaki. 2. Beri bantalan kapas atau kain antara bidai dengan tungkai yang patah. 3. Bila perlu ikat kedua tungkai di atas lutut dan pergelangan kaki / telapak kaki dengan pembalut untuk mengurangi pergerakan. 4. Rujuk ke fasilitas kesehatan. Patah tulang paha dapat menimbulkan perdarahan dalam sehingga penderita dapat mengalami syok. Patah Tulang Tungkai Bawah. Pertolongan : 1. Siapkan Pembalut secukupnya untuk mengikat bidai. 2. Sebaiknya pasang dua bidai sebelah dalam dan luar tungkai yang patah. 3. Di antara bidai dan tungkai beri kapas atau kain sebagai alas. 4. Bidai mulai dari lipat paha sampai sedikit melebihi telapak kaki. 5. Rujuk ke fasilitas kesehatan. Patah Tulang Kaki. Pertolongan : 1. Apabila tidak ada perdarahan, sepatu tidak di buka sebab sudah merupakan bidai. 2. Bila ada perdarahan banyak dan terjadi pembengkakan, maka sepatu dibuka, bila sukar di gunting. 3. Hentikan pendarahan yang terjadi. 4. Beri kapas atau kain pada telapak kaki, kemudian pasang bidai yang sesuai dengan panjang telapak kaki. 5. Beri ikatan pada kaki dan jangan terlalu kencang. 6. Rujuk ke fasilitas kesehatan. 11 Urai Sendi Rahang Bawah. Gejala dan Tanda.: a. Mulut terbuka. b. Rahang bawah kaku sukar digerakan. c. Rasa nyeri. d. Sukar berbicara. Pertolongan : 1. Bungkus kedua ibu jari penolong, maksud agar tidak licin dan mencegah jari cedera bila terkatup mulut si penderita. 2. Berdiri di depan penderita. 3. Letakan ibu jari di geraham penderita. 4. Tekan kearah bawah dan dorong ke arah belakang kemudian ke atas, cepat cepat lepaskan ibu jari dari mulut penderita. 5. Setelah kembali Normal Imobilisasi daerah tersebut. 6. Rujuk ke fasilitas kesehatan. Wienbels turut melakukan sosialisasi 7 (Tujuh) Materi PMR, Implementasi Tri Bhakti PMR dan Perubahan Karakter kepada temen-temen PMR di Jakarta Barat. Semoga bermanfaat,,, ANATOMI DAN FAAL DASAR TUBUH MANUSIA “Pengetahuan dasar tubuh dan faal tubuh manusia keharusan bagi pelaku pertolongan pertama” ANATOMI (Susunan Tubuh) ; Ilmu yang mempelajari susunan dan bentuk tubuh. FISIOLOGI ( Faal Tubuh) : Ilmu yang mempelajari faal (Fungsi) bagian dari alat atau jaringan Tubuh. Regio (Bagian) Tubuh : Tubuh dikelilingi oleh kulit dan diperkuat oleh rangka. Secara garis besar, tubuh manusia dibagi menjadi: 1. Kepala 2. Leher 3. Batang tubuh (Dada, perut, punggung dan panggul) 4. Anggota gerak atas 5. Anggota gerak bawah Selain pembagian tubuh maka juga perlu dikenali 5 (lima) buah Rongga yang terdapat didalam tubuh manusia yaitu ; 1. Rongga tengkorak 2. Rongga tulang belakang 3. Rongga dada 4. Rongga perut 5. Rongga panggul Perut (Abdomen) Untuk rongga perut dibagi menjadi 4 bagian yang dikenal Kwadran, (dilihat dari sisi korban): 12 a. Kwadran kanan atas (Ada organ hati, kandung empedu, pankreas dan usus) b. Kwadran kiri atas (Ada organ lambung, limpa dan usus) c. Kwadran kanan bawah (Terutama organ usus termasuk usus buntu) d. Kwadran kiri bawah (Terutama usus) Struktur tubuh manusia Tubuh manusia terbentuk dari unit hidup yang terkecil sampai menjadi bentuk kompleks. Bagian terkecil dari makhluk hidup adalah Sel dan kumpulan dari Sel-sel yang menyatu dengan bentuk, besar dan fungsinya dinamakan Jaringan serta kumpulan bermacam jaringan yang bersatu dengan fungsi tertentu disebut Organ. SISTEM TUBUH Adalah susunan dari organ-organ yang mempunyai fungsi tertentu: I. SISTEM RANGKA Rangka manusia terdiri dari berbagai tulang dan mempunyai bentuk berbagai macam yaitu: 1. T. Panjang/T. Pipa, misalnya pada Tulang Paha (Femur) dan Lengan Atas (Humerus) 2. T. Pendek misalnya tulang-tulang jari (Ossa digitorum) 3. T. Pipih misalnya Tulang Rusuk (Costae) 4. T. Tak beraturan, misalnya Tulang-tulang Pergelangan Tangan (Ossa metacarpi) 5. T. Sesamoid,misalnya Tulang Tempurung Lutut (Patella) SUSUNAN KERANGKA 1. Tulang Kepala a. Tengkorak otak (Ossa cranii) b. Gubah tengkorak (Os parietale) c. Dasar tengkorak (Os occipitale) 2. Tulang Wajah a. T.dahi (Os frontale) b. T.pelipis (Os temporale) c. T.hidung (Os nasale) d. Rahang atas (Maxilla) e. Rahang bawah (Mandibula) 3. Kerangka Dada a. T. Dada (Sternum) 1 buah b. T. Rusuk / Iga (Costae) 12 pasang c. Rangkaian tulang belakang • T. Leher (Pars cervicalis) 7 ruas • T. Punggung (Pars thoracica) 12 ruas • T. Pinggang (Pars lumbalis) 5 ruas • T. Kelangkang (Os sacrum) • T. Ekor / tungging (Os coccygis) 4. Tulang Panggul (Os coxae) a. T. Kamaluan b. T. Duduk 5. Angota Gerak Atas 13 a. T. Selangka (Clavicula) b. T. Belikat (Scapula) c. T. Lengan atas (Humerus) d. T. Hasta (Radius) e. T. Pengumpil (Ulna) f. T. Pergelangan tangan (Ossa carpi) g. T. Telapak tangan (Ossa metacarpi) h. T. Ruas jari tangan (Ossa digitorum) i. T. Pada persendian bahu (Articulatio humeri) j. T. Pada persendian siku (Articulatio cubiti) 6. Anggota Gerak Bawah a. T. Paha (Femur) b T. Tempurung lutut (Patella) c T. Kering (Tibia) d T. Betis (Fibula) e T. Pergelangan kaki (Ossa tarsi) f T. Telapak kaki (Ossa metatarsi) g T. Ruas jari kaki (Ossa digitorum) II SISTEM OTOT Merupakan suatu organ atau alat yang memungkinkan tubuh dapat bergerak. Golongan otot 1. Otot Rangka (otot serat lintang, otot serat lurik) 2. Otot Polos 3. Otot Jantung Susunan otot rangka tubuh: a. Otot-otot Kepala b. Otot-otot Leher c. Otot-otot Bahu d Otot-otot Dada e Otot-otot Perut f Otot-otot Punggung g Otot-otot Lengan atas h Otot-otot Lengan bawah i. Otot-otot Panggul j. Otot-otot Tungkai atas k Otot-otot Tungkai bawah Otot rangka Merupakan otot yang bergerak aktif dan memelihara sikap tubuh, dalam keadaan istirahat otot tetap mempunyai sedikit ketegangan yang disebut tonus otot. Fungsi tonus otot a. Memelihara sikap dan posisis tubuh b. Menahan rongga perut oleh otot-otot perut c. Menahan tekanan darah oleh otot-otot dinding pembuluh darah Article II. III SISTEM PERNAPASAN Pernafasan dibagi dua jenis : 14 1. Pernafasan dalam : pertukaran gas yang terjadi didalam jaringan 2. Pernafasan luar : pertukaran gas oksigen dan karbondioksida dalam paru- paru Susunan : 1. Hidung dan mulut 2. Tekak (farings) 3. Pangkal tenggorok (larings) 4. Batang tenggorok (trakea) 5. Cabang tenggorok (bronkus) 6. Paru-paru (Pulmo) 7. Anak cabang tenggorok (bronkiolus) 8. Gelembung udara paru-paru (alviolus) Fungsi : 1. Mengambil (O2) untuk diedarkan keseluruh tubuh sebagai zat pembakar 2. Mengeluarkan (Co2) sebagai sisa pembakaran dibuang melalui paru-paru 3. Menghangatkan dan melembabkan udara (Hidung) Proses Pernapasan : 1. Menarik napas (Inspirasi atau Inhalasi) 2. Menghembuskan napas (ekspirasi atau ekshalasi) Cara Pernapasan : 1. Pernapasan dada, ketika bernapas rangka dada bergerak membesar 2. Pernapasan perut, ketika bernapas sekat rongga dada bergerak naik turun dipacu oleh perubahan tekanan dalam perut. IV. SISTEM SIRKULASI DARAH Sistem sirkulasi darah terdiri dari : 1. Jantung 2. Pembuluh darah a. Pembuluh nadi (Arteri) Pembuluh darah yang keluar dari jantung, dan membawa darah ke organ dan bagian tubuh -. A.Temporalis (di T.Os temporale) -. A.Facialis (dibawah T.mandibula) -. A.Subclavia (dibelakang T.clavicula) -. A.Carotis (di T.cervical) -. A.Brachialis (di proximal T.humerus) -. A.Radialis (di distal T.radius) -. A.Femoralis (di proximal T.femur) -. A.Dorsalis pedis (diatas T.Ossa tarsi) -. A.Tibialis posterior (disamping dalam T.Ossa tarsi) b. Pembuluh balik (Vena) Pembuluh darah yang membawa darah dari bagian atau organ tubuh kembali ke jantung c. Pembuluh rambut (kapiler) Merupakan pembuluh darah halus dan berfungsi sebagai: -. Alat penghubung arteri dan vena -. Tempat pertukaran zat -. Mengambil hasil kelenjar -. Menyerap zat nutrisi di usus 3. Darah dan komponennya 15 4. Saluran linfe FUNGSI DARAH 1. Alat pengangkut a. Mengangkut O2 dari paru-paru keseluruh jaringan tubuh b. Mengangkut CO2 dari jaringan tubuh untuk dikeluarkan melalui paru-paru c. Mengambil zat nutrisi / makanan dari usus halus ke seluruh jaringan tubuh d. Mengangkut zat tidak berguna untuk dikeluarkan dari tubuh melalui kulit dan ginjal 2. Pertahanan tubuh terhadap penyakit 3. Bagian dari proses pengaturan suhu tubuh 4. Membantu membekukan darah bila terjadi luka Jumlah darah dalam tubuh berkisar 1/13x atau sekitar 8% berat badan Darah terdiri dari 1. Cairan plasma dimana terlarut zat gizi, zat sampah dan zat kebal 2. Sel darah merah yang bertugas menghantar O2 keseluruh tubuh 3. Sel darah putih yang bertugas melawan kuman penyakit 4. Keping darah yang bertugas pembekuan darah apabila terjadi luka Peredaran darah terdiri dari : 1. Peredaran darah kecil dengan bagan sebagai berikut Jantung – Pembuluh nadi – Paru-paru (terjadi pengambilan O2 dan pembuangan gas CO2) – Pembuluh darah balik – Paru-paru – Jantung. 2. Peredaran darah besar dengan bagan sebagai berikut Jantung – Pembuluh nadi – seluruh bagian tubuh (terjadi pemberian O2 serta pengambilan zat sampah) – Pembuluh balik jantung. Denyut nadi Denyut nadi dapat teraba setiap jantung berdenyut / memompa darah yang diteruskan melalui pembuluh nadi. Article III. Article IV. V. SISTEM SARAF Sistem yang berfungsi mengatur seluruh tubuh dengan melakukan Koordinasi dan kerjasama antar sistem dalam tubuh Pembagian sistem saraf : 1. Susunan saraf pusat a. Otak -. Otak besar -. Otak kecil -. Batang otak 2. Susunan saraf tepi a. Susunan saraf somatik b. Susunan saraf otonom Fungsi : a. Sensorik (dilakukan oleh organ panca indera) b. Motorik (mengatur tubuh bergerak) c. Kordinasi / (Gabungan) 16 -. Mengendalikan sistem lain tubuh -. Mengatur kesadaran, ingatan, bahasa dan emosi Article V. VI. SISTEM PENCERNAAN Saluran percernaan adalah saluran yang menerima makanan dari luar untuk diserap oleh tubuh dengan jalan dicerna yang mendapat bantuan enzim dan zat cair mulai dari mulut sampai anus. Susunan : 1. Mulut 2. Tekak (Farings) 3. Kerongkongan 4. Lambung 5. Usus halus a. Usus 12 jari b. Jejunum c. Ileum 6. Usus besar a. Seikum b. Usus buntu c. Kolon asendens d. Kolon transversum e. Kolon desendens f. Kolon sigmoid g. Poros usus h. Anus Organ getah pencernaan : a. Kelenjar ludah b. Kelenjar getah lambung c. Kelenjar pankreas (kelenjarludah perut) d. Kelenjar getah usus Article VI. VI. SISTEM ENDOKRIN Kelenjar endokrin / buntu adalah kelenjar yang mengirimkan hasil sekresinya kedalam darah tanpa melalui suatu saluran, hasil sekresi ini disebut Hormon VII. SISTEM KEMIH (URINARIUS) Proses penyaringan darah untuk menyerap zat yang digunakan tubuh dan membebaskan dari zat yang tidak digunakan tubuh. (a) VIII. SISTEM REPRODUKSI Organ reproduksi membentuk traktus genetalia yang berhubungan dengan traktus urinarius. Pada laki-laki kedua traktus ini berhubungan langsung sedangkan pada perempuan tidak menyatu. 17 MATERI PALANG MERAH REMAJA NO MATERI WIRA 1. Kepalangmerahan 15 jam 2. Pertolongan Pertama 22 jam 3. Perawatan Keluarga 18 jam 4. Kesehatan Remaja 8 jam 5. Kesiapsiagaan Bencana 15 jam 6. Kepemimpinan Kepalangmerahan 35 jam 7. Donor Darah 4 jam TOTAL 117 jam

Related Posts:

0 Response to "Materi PMR Wira"

Poskan Komentar